Tanggal 14 Agustus yang lalu aku menonton film Perahu Kertas yang diadaptasi dari novel karya Dewi Lestari dengan judul yang sama. Aku mendapat dua tiket gratis karena menang kuis dari @bentangpustaka di Twitter pada malam sebelumnya. Beruntung sekali aku dapat menyaksikan film ini sebelum tanggal premierenya yakni tanggal 16 Agustus. Apalagi aku mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Pak Sutradara dan salah satu pemainnya; Hanung Bramantyo dan Reza Rahadian.
Apa jadinya kalau Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari berkolaborasi?
Keduanya sama-sama profesional dalam bidangnya masing-masing. Dewi Lestari di sastra, Hanung Bramantyo di perfilman. Dan ketika keduanya bertemu, sudah pasti karya yang indahlah yang terlahir. Itulah Perahu Kertas the movie.
Film satu ini mengisahkan tentang dua insan yang dipertemukan secara tiba-tiba oleh Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully R). Mereka adalah Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) yang memiliki jalan hidup yang berbeda. Kugy menyusuri jalan hidupnya sebagai penulis dongeng, dan memiliki asa menjadi seorang juru dongeng. Namun realita berkata lain, bahwa juru dongeng tidak bisa dijadikan sebagai profesi. Keenan mengarungi jalan hidupnya sebagai mahasiswa jurusan ekonomi atas keinginan ayahnya, bahkan ia mendapat IP tertinggi di kampusnya. Namun hatinya berkata lain, bahwa ia mencintai dunia seni.
Keduanya sama-sama profesional dalam bidangnya masing-masing. Dewi Lestari di sastra, Hanung Bramantyo di perfilman. Dan ketika keduanya bertemu, sudah pasti karya yang indahlah yang terlahir. Itulah Perahu Kertas the movie.
Film satu ini mengisahkan tentang dua insan yang dipertemukan secara tiba-tiba oleh Eko (Fauzan Smith) dan Noni (Sylvia Fully R). Mereka adalah Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken) yang memiliki jalan hidup yang berbeda. Kugy menyusuri jalan hidupnya sebagai penulis dongeng, dan memiliki asa menjadi seorang juru dongeng. Namun realita berkata lain, bahwa juru dongeng tidak bisa dijadikan sebagai profesi. Keenan mengarungi jalan hidupnya sebagai mahasiswa jurusan ekonomi atas keinginan ayahnya, bahkan ia mendapat IP tertinggi di kampusnya. Namun hatinya berkata lain, bahwa ia mencintai dunia seni.
Kedua remaja itu dipertemukan dan diam-diam tumbuh benih cinta di hati masing-masing. Namun dalam perjalanan kedua hati itu, hal-hal lain mulai menghalangi mereka. Seperti tumbuh hati-hati yang lain, persahabatan Kugy dan Noni yang pecah ketika Kugy, demi menjaga hatinya, tak datang pada pesta ulang tahun Noni yang diadakan di rumah Wanda.
Keenan akhirnya pergi ke Bali dan singgah di rumah Pak Wayan (Tyo Pakusadewo), seorang pelukis teman lama ibunya. Kemampuan melukis Keenan menjadi buntu karena hati yang gundah. Namun dalam situasi itu, Luhde (Elyzia Mulachela) menjadi penyemangat utama Keenan dalam melukis lagi. Di sisi lain, Kugy dipertemukan dengan Remi (Reza Rahadian) yang tidak lain ialah bosnya sendiri dalam sebuah perusahaan advertising yang bernama "AdVocaDo".
Sebagai penikmat novelnya, sudah seharusnya aku menjadi penikmat film layar lebarnya pula. Ceritanya yang fresh dan unik membuat Perahu Kertas berbeda dari film-film romance lainnya. Tidak hanya mengisahkan tentang cinta, Perahu Kertas juga menyuguhkan kisah persahabatan, cita-cita, juga keluarga. Jadi penonton tidak akan dibuat bosan karena ceritanya yang berbeda dari film romance lain yang cenderung klise.
Dan sebagai penikmat novelnya pula, aku rasa Perahu Kertas juga bukan film yang sempurna. Setiap film tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti kata rekan nontonku usai menyaksikan film ini, terlalu to the point. Meski sebagian besar adegan dari buku ada di film, alurnya seperti loncat-loncat, perpindahan adegan satu ke adegan lain seperti membuat penonton berpikir "Lho, kok udah adegan ini aja..". Banyak peristiwa yang rasanya berlangsung sangat lama, ada juga peristiwa yang durasinya dibuat terlalu cepat, sehingga penonton terkadang dibuat bingung dan kurang puas. Sayangnya lagi, ada sedikit adegan penting di buku yang tidak ditampilkan di film, seperti ketika Kugy di stasiun mengenakan piyama dan beralih menguasai bagian informasi lalu meneriakkan nama Keenan, atau ketika adegan pisang susu, dan lain-lain.
Namun tentu saja, itu opiniku sebagai penggemar novelnya yang sudah membacanya berulang-ulang. Bagi yang belum pernah membaca novelnya pun juga tidak akan tersesat dalam alur ceritanya, dan akan menemukan Perahu Kertas sebagai film yang wajib ditonton Agustus ini.
Sesuatu yang wajar sebuah film memiliki kekurangan. Di sisi lain, tentu saja Perahu Kertas memiliki banyak keunggulan. Cerita romansa Kugy dan Keenan dikemas sedemikian rupa menjadi suatu kisah yang fresh, berkualitas, berbeda, dan tentunya unik. Selain itu, pembawaan karakter oleh pemain bisa dibilang sangat baik. Kugy Karmachameleon yang dihadirkan oleh seorang Maudy Ayunda hadir dengan nyata. Sifat apa adanya, rasa percaya dirinya, tawa renyahnya, sorot mata bahagianya, kelakuannya yang terkadang aneh dan unik, selera musik 70-annya, itu semua ada. Dan Adipati Dolken hadir membawakan perannya sebagai Keenan. Lelaki cool yang pandai melukis, senyuman yang manis, dan sifat dewasanya, dapat dibawakan Adipati dengan baik.

Pasangan Eko dan Noni benar-benar sukses menghibur satu studio. Mereka berdua dengan sikap yang kadang konyol dan gila membuat aku tidak berhenti tertawa setiap mereka muncul di layar. Eko yang dibawakan Fauzan Smith sangat menghibur dengan akting lawaknya yang mengalir dan tampak tidak dibuat-buat. Seperti ketika Eko menanggapi komentar Wanda tentang lukisan Keenan dengan mimik yang lucu, dan juga sikap konyol Eko saat prosesi pernikahannya dengan Noni.
Elyzia Mulachela dalam film Perahu Kertas sukses membuat aku kagum sebagai penikmat novelnya. Elyzia berhasil menghadirkan seorang Luhde yang lemah lembut, dewasa, dan cerdas dengan sangat natural, ditambah dengan dialek Bali yang kental. Dan yang terakhir, sosok Remigius Aditya yang dihadirkan oleh seorang Reza Rahadian. Entah kenapa, pembawaan karakter Remi oleh Reza ini nyaris sempurna. Dia bak air yang mengalir apa adanya, mengikuti perjalanan seadanya. Salut sekali dengan Reza Rahadian ini, berbagai film dia bintangi, sudah tidak diragukan lagi profesionalitasnya.
Di samping cerita dan pemainnya, aku juga sangat menyukai lokasi-lokasi yang dipakai di film Perahu Kertas bagian pertama ini. Contoh saja ketika adegan Kugy dan Remi duduk berdua menikmati ombak laut, lokasi yang diambil yakni Ancol. Apalagi di bagian kedua film Perahu Kertas ini, juga akan mengambil lokasi di Rancabuaya di salah satu adegannya. Sungguh tidak sabar aku menanti kalau terus terbayang indahnya panorama di Rancabuaya sana. Begitu pula dengan musik yang diselipkan di setiap adegan. Meski ada yang sedikit misplacing, namun lirik dan alunan yang indah sukses membuat penonton tidak begitu peduli dengan hal itu.
Sepanjang film ini berlangsung, aku sangat menikmati tiap detiknya. Rasanya seperti hanyut dalam kisah romansa Kugy dan Keenan, seperti bermimpi dengan mata terbuka. Perahu Kertas termasuk film yang wajib ditonton Agustus ini. Tidak hanya untuk remaja, film ini juga bisa dinikmati kalangan dewasa. Tambah nikmat jika ditonton bersama teman-teman atau keluarga.
One sentence, can't wait for the second part!




No comments:
Post a Comment