Sore ini hujan membisikkan teriakan-teriakan kacau. Nyaris seperti samudera yang dijungkir balik dari udara. Dari daun telinga, dingin menjalar melalui rusuk dan bermuara di kelingking kaki. Membekukan jantung dan pembuluh-pembuluh yang dihubungnya. Gemuruh layaknya kelompok singa kelaparan yang berusaha memakan satu sama lain.
Langit kelam terlihat jelas dari bibir jendela. Hamparan awan pekat yang sedari tadi menggantung, kini tumpah bersama hujan yang membawa amarah. Harum tanah usai dimandikan hujan biasanya menjadi favoritku. Kini ia berbau kematian, tidak biasanya.
Hujan, aku harap ini amarah terakhirmu.
Aku ingin menghirup tanahmu lagi.
Yogyakarta, 13 Januari 2013
No comments:
Post a Comment