a

20.3.13

Februari dan 45.

Bulan berat lagi bagi Squarterfive, walaupun sudah lama berlalu. Iya, Februari. 
Banyak hal sederhana yang menyusun Februari.
Ini dimulai sejak tugas dari Bu Sarjimah (guru mata pelajaran IPS) diberikan. Kami diberi sebuah tugas membuat film bertema perjuangan bangsa Indonesia sebelum hingga sesudah proklamasi kemerdekaan. Herannya, dari seluruh kelas 8, cuma kami yang diberikan tugas ini. 

Jadi kami menghabiskan seluruh Februari untuk merampungkan satu tugas ini. Akhir Januari hingga awal Februari adalah bagianku dan dua teman lain, dimana waktu dihabiskan untuk menggarap screenplay film. Bisa dibilang proses penulisan screenplay ini memakan waktu paling lama, karena memang harus melewati banyak proses penyuntingan oleh sutradara dan bla bla bla. Sedangkan untuk pengambilan gambar, efektifnya kami menggunakan lima hari.

Hari pertama dan kedua pengambilan gambar, yaitu tanggal 9-10 Februari 2013, kami menggunakan rumah klasik zaman Belanda milik eyang teman kami, Dita, di daerah Lempuyangan. Dua hari digunakan di sana untuk mengambil adegan-adegan rapat. Beberapa anak menginap di sana, termasuk aku (yang excited banget tiap mau menginap). Aku sebagai penulis skenario yang sudah selesai pekerjaanya, dapat job lagi dari sutradara sebagai penggarap behind the scene bersama Nadia dan Arda. Woohoo!

Embak-embak ganteng siyap syutinggg..
Sutradara kami, Erni, dan gantungan unyu punyaku. Close enough?
Diza, sebagai Director of Photography sekaligus Camera Operator.
Yang ini clipper kami, Ayu.
Girls wearing Squarterfive's t-shirt.
Hari ketiga adalah hari Jumat, 15 Februari 2013, hari dimana kami sekolah seperti biasanya. Kami bergegas untuk shooting lagi setelah KBM. Tiga tempat di sekolah kami gunakan sebagai tempat pengambilan gambar: lapangan belakang, studio musik, dan kelas kami sendiri.Shooting hari itu kami habiskan untuk mengambil adegan-adegan penyebarluasan berita proklamasi. 
Suasana kelas sebelum syuting.
Camera, roll, action!
Hari keempat, 16 Februari 2013, bisa dibilang hari pengambilan gambar yang paling seru. Sabtu itu sepulang sekolah, kami bersama-sama sekelas menuju rumah eyang Erni di Jalan Magelang. Luas dan kuno sekali rumahnya. Ada lapangan yang luas sekali di depannya, makanya anak-anak cowok suka main bola di sana di sela shooting walau masih berbalutkan jas buat shooting sekalipun!

Hari itu shooting selesai waktu Maghrib dan langit sudah gelap. But, well, such a tiring day couldn't even prevent us the girls from taking some narcissistic photos . . . 

Di hari terakhir, tanggal 17 Februari 2013, rumah eyang Nanda yang giliran kami pakai, di Jalan Magelang juga. Adegan puncak dari film ini juga dilaksanakan di sini: proklamasi kemerdekaan. Aku datang terlambat karena ada acara keluarga sebelumnya, dan aku dapat jatah bermain figuran sebagai pemudi yang menyebarkan berita proklamasi. Muka nyaris nggak kelihatan, banyak scene yang akhirnya nggak dipakai. *bershower*

But that's not a big problem though hahaha, hal paling penting yang aku rasakan setelah hari itu cuma lega dan bangga. Lega dan bangga karena kami telah selesai (belum BENAR-BENAR selesai tapi). Sebelum menggarap film ini, aku ingat temanku pernah bilang "Kayaknya tugas film Bahasa Inggris bakal lebih berhasil dari ini (film IPS)" (yoi, kita juga diberi tugas film Bahasa Inggris). 

Waktu itu diam-diam aku menyetujuinya. Tapi kita bisa lihat hasilnya sekarang nih: WE DID IT, BEAUTIFULLY. 
 Girls after shooting.
Setelah pengambilan gambar, tinggal satu step lagi yang harus dijejaki. Proses pasca shooting: mengedit film, membuat poster, trailer, dan behind the scene. Setiap department dapat pekerjaan mereka masing-masing, itu semua udah diatur sama sutradara kami Erni. Artistik menggarap poster dan cover depan-belakang DVD. Trailernya? Digarap bidang properti. Trailernya udah kami unggah di YouTube, btw. Go check it out!


Tanggal 3-3-13 lalu adalah tanggal resmi pemutaran pertama film "45." ini. Kami mengundang guru-guru, teman-teman seangkatan, juga adik kelas untuk datang dan menyaksikan film ini. Bangga dan bersyukur sekali, mereka memberikan apresiasi luar biasa terhadap karya Squarterfive. Itu bisa kami lihat dari kesan dan pesan yang mereka tulis di kain putih bebarengan dengan tanda tangan mereka.

Terima kasih untuk semua pihak yang membantu dalam proses pra, pas, maupun pasca produksi. Terutama untuk mereka yang meluangkan waktu untuk datang di premiere film ini. Dan buat kita, Squarterfive, selamat! :)

No comments:

Post a Comment