a

7.7.12

Simfoni Anak Jalanan: Bagian Dua

Aku ucapkan selamat datang di bagian kedua. Sebelum membaca ini aku sarankan kalian membaca Simfoni Anak Jalanan bagian satu terlebih dulu. Di sebelumnya aku sajikan jalan cerita pertunjukan teater kelompok Ganjil sampai ketika datangnya tiga utusan perusahaan yang hendak menggusur kampung tempat Empat Sekawan tinggal. Lanjutan ceritanya tersaji rapi dalam postingan ini. Selamat menikmati!

Well, bisa dibilang ini adegan favoritku. Ini adalah adegan penyerangan oleh warga kepada tiga utusan perusahaan itu.
Tiga orang utusan perusahaan itu akhirnya memutuskan untuk pergi dan mencari lahan lain yang lebih strategis lagi. Warga senang akhirnya daerah mereka tidak jadi dibagun plaza.
Setelah kepergian tiga orang itu, warga bergembira.
Belum usai sampai itu, setelah warga bergembira datanglah sebuah keluarga yang hendak memberi sumbangan untuk Pak Bejo yang dikenalnya. Tanpa diduga sebelumnya, rupanya anak keluarga tersebut ialah gadis yang ditemui Adit di supermarket beberapa waktu yang lalu. Mereka berkenalan satu sama lain.
Empat Sekawan menerima sumbangan uang dari keluarga tersebut. Mereka bahagia sekali dapat membantu perawatan Pak Bejo agar cepat sembuh.
Ahmad menyalimi Bapak keluarga tersebut sebagai tanda hormat serta terima kasih atas sumbangannya.
Berakhir dengan bahagia sekali, ya? Kampung mereka tidak jadi dibangun plaza, warga hidup bahagia. Meskipun Pak Bejo belum sembuh seutuhnya, namun sumbangan keluarga dan usaha Empat Sekawan mampu membiayai pengobatan kaki Pak Bejo. Dan... meskipun Empat Sekawan tidak mampu sekolah, mereka selalu bahagia dan bersyukur atas rahmat Tuhan. Empat Sekawan rajin mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidup. Yak, semuanya bahagia di akhir.

Setelah pertunjukan teater selesai, kami para pemain serta kru bernyanyi bersama menyanyikan lagu Aku Bisa oleh AFI Junior serta menari-nari. Yuk intip bagaimana serunya kami bernyanyi dan menari bersama. Kita bisa!

Suka sekali waktu bagian terakhir dari pertunjukan teater Simfoni Anak Jalanan ini. Benar, kami masih SMP dan belum bisa membuat pertunjukan kelas atas. Namun kami tetap senang dapat memulai dari yang kecil, dan sukses. Karena untuk menjadi besar kita harus memulai dari yang kecil, bukan?

Perjalanan bersama Ganjil itu tidak mudah untuk dilupakan. Proses pembuatan naskah, saat-saat casting, saat-saat latihan di rumah Erni dan makanan menumpuk, sifat konyol teman-teman saat latihan yang bikin cekikikan, Ale yang keseringan terlambat, kebiasaan kelompok habis latihan selalu teriak "Jil Ganjil Ganjil, Sik Asik Asik, Hokya!", Erni yang marah-marah yang bikin THT sekelompok, hingga akhirnya pertunjukan ini dapat terlaksana, rindu sekali.

Well, hanya ini yang dapat kukatakan.

Akhir kata,
Terima kasih Erni Irdewanti Anggadewi!
Terima kasih Shafa Nabilla Haya!
Terima kasih Alifa Ardhyasavitri!
Terima kasih Achmad Rizki Ilham Saleh!
Terima kasih Nur Aditya Hernawan!
Terima kasih Damasari Trikurniawati!
Terima kasih Risdian Syarifia Alvi!
Terima kasih Anandita Dwi Agustine!
Terima kasih Alifia Muharrama Kalbarwati!
Terima kasih Alwan Muhammad Rizqi!
Terima kasih Muhammad Hanan Setiafendi!
Terima kasih Muhammad Daffa Ardiawan!
Terima kasih Anisha Oktania Prawisesa!
Terima kasih Noor Diana Arrasyid!

TERIMA KASIH GANJIL!

No comments:

Post a Comment