7 Juni 2012. Puncak perjuangan, menggantikan keringat serta dahaga selama enam bulan. Sia-sia bukanlah yang kami dapatkan, sesungguhnya syukur ialah yang harus diucapkan.
Terima kasih Tuhan,
atas semua kemudahan serta kelancaran dalam berlangsungnya dua puluh menit bersandiwara.
Atas kesempatan keluar dari yang nyata dan merasakan menjadi orang lain.
7 Juni 2012 yang lalu kami tampil. Siapa? Ganjil. Lima belas anak yang dipilih secara acak, tidak terasa selama enam bulan kami merasa seperti satu. Enam bulan perjuangan, menuju titik darah penghabisan. Sedikit berlebihan memang jika kalian melihat dari sudut pandang kalian, tapi coba lihat dari sudut pandang kami. Inilah perjuangan kami; lelah, dahaga, dan kecapaian. Syukurlah pertunjukan berlangsung dengan lancar, meskipun ada sedikit kesalahan teknis di akhir. Dan nilai yang Pak Jion berikan, tidak buruk. Alhamdulillah.
Kurang asik tanpa foto, berikut ini foto-foto berlangsungnya kami 20 menit bersandiwara.
![]() |
| Tiba-tiba Rini (Arda) memergoki Adit yang sedang membaca puisi. Dalam adegan ini Adit mengaku ia jatuh cinta pada gadis yang ditemuinya di supermarket. |
![]() | |
| Sari (Iza) dan Ahmad (Daffa) tiba-tiba mendatangi Adit dan Rini seusai mengamen. Mereka mengabarkan kabar buruk tentang Pak Bejo yang kecelakaan. |
![]() |
| Empat Sekawan di depan ruang ICU tempat Pak Bejo dirawat. Mereka cemas dengan keadaan Pak Bejo sekarang. Rupanya Pak Bejo sakit parah, kakinya patah sehingga tidak dapat menjalankan angkringan lagi. |
![]() | |
| Akhirnya Empat Sekawan memutuskan untuk mengganti posisi Pak Bejo dan berjualan di angkringan miliknya untuk membantu mencari dana untuk perawatan Pak Bejo. |
![]() |
| Setelah adegan galau selesai, tiba-tiba tiga orang utusan perusahaan mendatangi Rini yang tengah menyapu. Tiga orang itu hendak menggusur daerah tempat tinggal Empat Sekawan untuk dibangun sebuah plaza. |
![]() |
| Warga mulai berdatangan, mereka tidak terima jika daerah mereka digusur dan dibuat rata dengan tanah hanya untuk dibangun menjadi sebuah plaza, karena di sanalah mereka tinggal, di sanalah mereka mencari kebutuhan hidup mereka, meskipun tak selalu berkecukupan. |
![]() | |
| Kemudian salah satu warga (Erni) membacakan sastra tentang orang-orang berharta yang tiada pedulikan orang-orang miskin. Makna liriknya dalam, dibacakan dengan lantang namun dengan perasaan. Seluruh warga turut merasakan duka karena mereka juga mengalami penindasan oleh orang-orang berharta. --------------------------------------- |
Post ini belum usai. Masih ada separuh lagi menuju puncak postingan ini. Bagian dua akan segera di posting. Keep calm and wait the second part!
|















No comments:
Post a Comment