"Hai, selamat datang kembali!" sapaku kepada hujan pagi ini.
Hujan baru saja reda. Sedikit mengobati kerinduanku pada hujan yang lama tidak hadir.
Bau tanah basah selalu menarik perhatianku. Rasanya selalu membawaku kembali ke masa-masa yang sudah lalu.
Dingin, masih sama seperti dulu.
Sebenarnya, aku adalah pembenci hujan.
Tapi kamu merubah segalanya.
Sejak menemukanmu menari dalam hujan, kamu seolah meghapus semua rasa benciku pada hujan. Dalam hujan, aku melihat tawamu. Begitu lepas, tidak dibuat-buat. Semua begitu nyata dan dekat.
Aku tidak pernah takut lagi menari dalam hujan. Asalkan bersamamu, aku mengerti semua akan baik-baik saja. Meskipun aku sering jatuh sakit setelah kerap bermandikan air hujan di pagi hari, tapi aku tidak pernah bosan untuk mengulanginya lagi. Di bawah siraman air hujan, kita tertawa. Walaupun tidak saling bertatap dan tidak saling berkata, aku tetap yakin, Tuhan tersenyum melihat kita.
Hujan datang di musim-musim tertentu.
Tidak mungkin turun setiap hari, bukan?
Seandainya aku masih bisa menari bersamamu di musim hujan berikutnya. Namun apa daya, waktu dapat merubah segalanya. Kini semuanya tak lagi sama. Kamu dengan duniamu dan aku dengan harapan-harapan yang lama kubungkam dalam bisu. Sampai saat ini, ketika hujan turun menyapa kita lagi, semua tak lagi sama. Hanya bau tanah dan rasa dingin yang tidak berubah.
Dimana kamu yang dulu?
Kumohon, kembalilah..
Hujan sudah susah payah datang untuk kita...
Apa kamu tidak melihatnya?
Aku menangis bersama hujan. Makin lama makin deras. Mengadu pada hujan dan berteriak padanya dalam diam.
Mengapa duniaku harus ikut berubah?
Tidak bisa kah kita kembali tertawa bersama hujan?
"Cintaku padamu boleh saja hilang, tapi tidak dengan cintaku pada hujan."
"Meskipun tanpa kehadiranmu, ijinkan aku menikmati hujan sekali lagi. Karena hanya dalam hujan, aku bisa menemukanmu bahagia bersamaku."
Diza Shafira Wardoyo
No comments:
Post a Comment