Jadi ingat masa kecil dulu. Waktu aku masih gendut, masih manja. Waktu aku masih playgroup, main di taman bermain sama teman-teman yang sekarang wajahnya asing dan bahkan nggak aku ingat. Dulu, tiap hari Minggu aku dan keluarga rajin ke UGM buat olahraga lalu makan lontong opor. Juga waktu SD, waktu aku masih tinggal di rumah lama. Ada ayunan di halaman yang paling aku suka, apalagi duduk-duduk di sana sambil menikmati sore.
Masih tidak menyangka sekarang aku udah besar.
Aku sadar karena aku dipertemukan lagi dengan 14 November.
Tahun lalu, aku dijaili teman-teman Squarterfive, diikat di pohon yang super pelukable di depan Lab. PKK bareng Dian yang juga berulang tahun lima hari setelah ulang tahunku. Kita diolesi krim merah seluruh wajah. Waktu itu hujan badai, bisa dibayangin gimana atmosfirnya? Aku histeris sendiri karena diikat terlalu kencang pakai tali rafia. Untungnya teman-teman segera datang kembali bawa gunting dan motong talinya, kita terselamatkan!
19.11.12
12.11.12
Aku dan Sedihku
Terbaring berpaling menghadap dinding hitam
Gelap, pekat dan penat aku benci
Cara hujan menghiburku pun tak kesampaian
Bersama angin dia menyanyikan lagu kacau
Biar nafasku sesak, biar hatiku teriak
Perih, seperti rasanya disiksa perlahan
Hancur, seperti kaca tanpa rupa setelah dipecahkan
Tumpukan bantal yang sengaja kuerat dengan wajah
Tak henti aku airi sampai basah
Hingga mengering oleh udara yang kelam
Bosan aku dengan kunjunganmu
Mengendap-endap ke dalam ruang kenangku
Melengkungkan senyum manis palsu itu lagi
Pada setiap malam, usainya selalu begini
Sepi, sunyi dan sendiri aku capai
Hingga akhirnya aku memejam
atau terjaga karena kacaunya malam ini
Aku dan sedih adalah kawan
-
Yogyakarta, November 2012
-
Yogyakarta, November 2012
3.11.12
Merayakan November
Pada akhirnya hanya puisi ini yang dapat aku beri, tidak bisa lebih
Sebagai ucapan selamat datang; pada kunjunganmu, masih tidak aku duga
Ada tabir di atas kalenderku
Sehingga tak kenal hari, apalagi penghujung tahun
Canda tangis tahun lalu disapu bersih, digantikan baru
Duduk menghadap jendela yang terbuka, menyeduh teh panas masih setia, sembari mendengarkan lagu hujan yang kembali mengalun
Sejumlah syair senja yang kamu titipkan lewat angin dan dedaunan yang bergesek sudah aku terima
Legaku atas kunjungan istimewamu
Langit November masih mencari perangainya
Namun aku berseru, hujan berkunjunglah
Dan semoga yang kau bawa tiga puluh hari ke depan adalah limpahan senyum
-
Yogyakarta, November 2012
Sebagai ucapan selamat datang; pada kunjunganmu, masih tidak aku duga
Ada tabir di atas kalenderku
Sehingga tak kenal hari, apalagi penghujung tahun
Canda tangis tahun lalu disapu bersih, digantikan baru
Duduk menghadap jendela yang terbuka, menyeduh teh panas masih setia, sembari mendengarkan lagu hujan yang kembali mengalun
Sejumlah syair senja yang kamu titipkan lewat angin dan dedaunan yang bergesek sudah aku terima
Legaku atas kunjungan istimewamu
Langit November masih mencari perangainya
Namun aku berseru, hujan berkunjunglah
Dan semoga yang kau bawa tiga puluh hari ke depan adalah limpahan senyum
-
Yogyakarta, November 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)